Connect with us
Visi Misi Cabup Toraja

Berdamai untuk semua

OPINI: INDONESIA NEGERI DONGENG

Published

on

opini:-indonesia-negeri-dongeng

Indonesia seperti Negeri Dongeng. Sebab berasaskan demokrasi, Namun berprilaku otoriter. Tergambar layaknya teater, di negeri ini sejuta rasa terbungkam bahasa. (Baca: rahman).

Payung hukum UUD 1945 terbaca multi, ter paham ragam terlaksana geram. Seperti itulah yang terasa, di benak kelompok minor yang lantang konsisten di persimpangan kiri jalan. ( baca: Rahman).

Lalu kita bertanya, Dimanakah kipra Negeri ini. Jawabnya, semua itu hanya-lah wayang-wayang belaka.

Rakyat-rakyat kecil di kerdilkan, di pasung, hingga di kabiri haknya. Ruang kebebasan berekspresi, makin lama- makin mahal. Hidup harmonis hanyalah mimpi  liar di siang bolong.

Namun aneh nan lucu, tiba-tiba sekelompok yang lain tampil dengan buka dada, berjalan angkuh,  bicara lantang, layaknya raja di atas raja. Ia pun bersuara, ini negeri kaya alamnya, kaya akan budaya, suku, ras  agama dan semuanya tertumpah rua.

Kita yang melihatnya, hanya memoles dada, menutup bibir, lalu tertawa hingga tak berdaya. Itu dongeng yang bagus, jawab kita didepan nya.

Rupa-rupa warnanya, merah kuning kelabu, ku pegang erat-erat. Jawa si bocah kecil yang lagi berlari- lari di sampingnya.

Lalu di kesempatan yang sama, kita berteriak. Haiiiiiiiii, kok raja lupa dunia nyata ya.

Bahwa masih banyak ekonomi terbengkalai sana sini, yang kelas bawa makin terjepit puasa, sementara kelas atas makin luas kuasa. Apakah itu juga bobotan dongeng negeri ini.

Cukong-cukong pabrik eropa, dan negeri tirai bambu mendapat tempat paling nyaman. Sementara rakyat pribumi histeria mengulas waja, merayap sedih di atas limbah pabrik tambang.

Suara hijab, suara peci dan sorban terjaring isu teroris. Sementara pejuang keadilan terpasung isu provokasi. Seperti di anggap melawan negara. Ini negeri makin hari makin nyeri.

Katanya Negeri kita bersimbol bhineka tunggal ika, yang artinya berbeda-beda tetap satu. Kok, kita makin hari makin bedah.

Negeri kita terbentang luas dari sabang sampai meroke. Namun itu bukan kita punya, sebab hasilnya milik pemodal. Kita hidup diatas emas, bermandi di atas minya, bermain di atas perak. Namun itu milik mereka. Kita hanya penjual pinang dan siri.

Sungguh kejam Negeri ini, kekejamannya melebih batas sabar manusia. Dara mengalir, daging dan kulit terluka dari anak bangsa. Namun itu di anggap demi keamanan negara.

Bunyian-bunyian tembakan, suara lars, gerakan pantongan, serta percikan gas air mata dan luapan air water canon di anggapnya hanyalah gertakan untuk mendamaikan aksi masa.

Lalu, yang terluka, terintimidasi dan bahkan yang mati itu apa? Apakah itu di anggap tidak sengaja? Jawabnya, tentu Tidak, sebab negeri ini adalah negeri hukum.

Negeri yang tidak memikirkan rakyat miskin adalah negeri yang tidak layak untuk di teruskan. Sebab esensinya kita bernegara hanya untuk melindungi hidup. Bukan melanggengi kepentingan kelompok.

Jika Hukum kita tidak lagi melindungi rakyat-rakyat kecil, demokrasi kita tidak lagi berhaluan kerakyatan dan dasar negara kita tidak lagi berpegang teguh dengan pancasila. Maka negeri ini tidak baik-baik saja.

Negeri yang dulu kala di perjuangkan oleh para toko-toko bangsa ini, yang membayar tangis dan dara adalah untuk kita, anak bangsa. Bukan untuk mereka yang datang hanya menindas.

Renungan liar di sudut warung. Rabu-18-11-2020. Abd rahman sejati. Kader, GAMHASMU

Berita dengan judul: OPINI: INDONESIA NEGERI DONGENG, pertama kali terbit di LIPUTAN4.COM, dibuat oleh: Hasbullah Tohau

Continue Reading
Comments